PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN
DENGAN PENGGUNAAN PUPUK KOMPOS KOTORAN SAPI
DAN JERAMI PADA BUDIDAYA KACANG TANAH
PROPOSAL
PROYEK USAHA MANDIRI
OLEH:
OKTIA IRVANDA
No.BP. 1101361007

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
TANJUNG PATI
TAHUN 2013
I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Tanaman kacang tanah (Arachis hypogeae, L.)
yang sudah tersebar luas dan ditanam di Indonesia ini sebetulnya bukanlah
tanaman asli, melainkan tanaman yang berasal dari Benua Amerika, tepatnya dari
daerah Brazilia (Amerika Selatan). Pada waktu itu di daerah tersebut sudah
terdapat lebih dari 6-17 spesies Arachis.
Mula-mula kacang tanah ini dibawa dan disebarkan ke Benua Eropa kemudian
menyebar ke Benua Asia (AAK, 2003)
Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal kacang
tanah sebagai bahan pangan dan industri. Tanaman ini biasanya ditanam di sawah
atau tegalan secara tunggal atau ganda dalam sistem tumpang sari. Sebagai bahan
pangan, biji kacang mengandung lemak dan protein (Suprapto, 2004).
Tanaman kacang tanah (Arachis hypogeae, L.) merupakan
tanaman polong-polongan atau legum dari famili Fabaceae,
kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Kacang tanah merupakan sejenis
tanaman tropika. Ia tumbuh secara perdu setinggi 30 hingga 50 cm (1 hingga 1½
kaki) dan mengeluarkan daun-daun kecil (Rahmat, 2005).
Berdasarkan
proyeksi data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Produksi kacang tanah 5 tahun
terakhir di Kabupaten Lima Puluh Kota terus meningkat dari tahun 2008 produksi
kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota ini adalah 183 ton/ha dan pada tahun
2012 berdasarkan hasil proyeksi adalah 357,79 ton/ha.
Menurut Suprapto (2004),
Kendala utama yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas antara lain
adalah pengolahan tanah yang kurang optimal sehingga dainasenya buruk dan
strukturnya padat, pemeliharaan tanaman kurang optimal, serangan hama dan
penyakit, penanaman varietas yang berproduksi rendah dan mutu benih yang
rendah. Usaha yang dapat ditempuh untuk mengatasi kendala tersebut adalah
dengan perbaikan cara tanam, penanaman varietas unggul, pengaturan populasi
tanaman, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit serta gulma.
Salah satu usaha yang
dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas yaitu dengan penggunaan
pupuk kompos kotoran sapi yang dimanfaatkan dari limbah ternak atau kotoran
sapi.
Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman
dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan.
Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya
dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan, yang disebut sebagai kompos (pupuk
organik).
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap
dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab,
dan aerobik atau anaerobik. Kompos sendiri dapat dibuat dari bahan-bahan
organik seperti kotoran ternak baik kotoran sapi, kambing, ayam, kuda, kerbau
dan sebagainya, sisa-sisa pertanian seperti hasil pangkasan sisa tanaman,
jerami padi, sampah kota, sampah rumah tangga, sampah pasar, hijau-hijauan, dan
limbah industri (Rizki, 2012)
Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan
dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya,
tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Pupuk organik dapat
memperbaiki struktur tanah untuk lahan pertanian, maka perlu dilakukan
pembuatan kompos dari kotoran sapi, dengan demikian diharapkan peternak sapi
akan mendapatkan nilai tambah (Faisal dan Farida, 2013)
Pengomposan merupakan
praktek tertua untuk menyiapkan pupuk organik yang selajutnya dikembangkan
menjadi teknologi untuk mendaur ulang limbah pemukiman. Di Indonesia,
pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk kandang sudah sejak lama dipraktekkan
oleh petani tradisional (Sutanto, 2002).
Menurut Faisal dan Farida (2013), manfaat
kompos organik untuk lahan pertanian yaitu :
1.
Mampu menggantikan penggunaan pupuk kimia atau mengurangi biaya produksi.
2.
Bebas dari biji tanaman liar (gulma).
3.
Tidak berbau dan mudah digunakan.
4.
Menyediakan unsur hara yang seimbang dalam tanah.
5.
Meningkatkan populasi mikroba tanah sehingga struktur tanah tetap gembur.
6.
Memperbaiki pH tanah.
7.
Meningkatkan produksi berbagai tanaman antara 10-30%.
Berdasarkan uraian
diatas penulis tertarik melakukan budidaya kacang tanah dengan judul “Peningkatan produksi dan pendapatan dengan
penggunaan pupuk kompos kotoran sapi dan jerami pada budidaya kacang tanah”.
1.2. Tujuan
Adapun
tujuan dari pelaksanaan Proyek Usaha Mandiri (PUM) adalah sebagai berikut :
1. Melatih
mahasiswa dalam membuat suatu usaha dibidang pertanian dengan menggunakan
berbagai teknologi.
2.
Menumbuhkan jiwa berwirausaha mahasiswa
dalam bidang pertanian.
3.
Dengan penggunaan kompos kotoran sapi dan jerami ini
penulis harap kualitas dan kwantitas produksi yang dihasilkan baik.
1.3. Manfaat Ekonomi
Manfaat dari budidaya kacang tanah ini yaitu dapat
meningkatkan pendapatan petani dan pada penggunaan kompos kotoran sapi dan
jerami akan dapat mengefisiensi biaya bagi petani terutama petani kacang tanah
dan pengerjaannya yang juga mudah serta alat-alat yang masih sederhana sehingga
tidak memerlukan biaya yang besar untuk pembuatan dan memperoleh bahannya.
1.4. Manfaat Sosial
Manfaat sosial dari budidaya kacang tanah ini
diantaranya adalah untuk memenuhi permintaan konsumen akan kacang tanah yang
meningkat setiap tahunnya. Selain itu juga dapat memberi peluang atau membuka
lapangan pekerjaan bagi petani.
Manfaat dari penggunaan kompos kotoran sapi ini
yaitu diantaranya bisa memanfaatkan kotoran sapi yang terbuang ataupun belum
dimanfaatkan untuk yang lebih bermanfaat, bukan untuk pupuk. Serta pada
penggunaan kompos ini, hasil pertaniannya lebih sehat tanpa adanya bahan kimia
yang terkandung dalam kacang tanah tersebut.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman
Kacang Tanah
2.1.1.
Klasifikasi
Tanaman Kacang Tanah
Menurut Rahmat (2005),
Kedudukan kacang tanah dalam sistematika
(taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
(tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyte
(tumbuhan berbiji)
Sub divisi : Angiospermae (tanaman berbunga)
Kelas : Dicotyledonae (tanaman berkeping dua)
Ordo : Leguminales
Famili : Leguminosea (berbunga kupu-kupu)
Genus : Arachis
(berbunga geotropic)
Spesies : Arachis
hypogeae L.
Menurut Suprapto (2004) , Secara
garis besar kacang tanah dibedakan menjadi dua tipe : tipe tegak (Bunch Type) dan tipe menjalar (Runner type). Jika didasarkan pada
sistem budidaya (khususnya di Indonesia), maka klasifikasi kacang tanah adalah
sebagai berikut:
Pertama, kacang tanah tipe tegak.
Jenis kacang tanah yang satu ini tumbuh secara lurus dan cenderung sedikit
miring ke atas. Umumnya petani lebih suka yang bertipe tegak sebab umurnya
pendek, 100-120 hari, sehingga lebih cepat panen. Lagi pula, buahnya hanya pada ruas-ruas yang dekat
rumpun sehingga masaknya bisa bersamaan.
Kedua, jenis
kacang tanah yang tumbuh menjalar. Tanaman jenis ini tumbuh menjalar ke arah
samping. Batang utamanya memiliki ukuran yang cendrung panjang antara 33-66 cm.
Sementara itu buahnya terdapat pada ruas-ruas yang letaknya berdekatan dengan
tanah. Pada umumnya jenis tanaman kacang tanah yang ini memiliki umur yang
panjang antara 6-7 bulan.
2.1.2.
Morfologi
Tanaman Kacang Tanah
A. Akar (Radix)
Menurut Rahmat (2005), perakaran kacang tanah terdiri atas akar lembaga (radicula), akar tunggang (radix primaria), dan akar cabang (radix lateralis). Pertumbuhan akar menyebar ke semua arah sedalam lebih kurang 30 cm dari permukaan
tanah. Akar berfungsi sebagai organ
pengisap unsur hara dan air untuk pertumbuhan tanaman.
Akar tanaman kacang
tanah bersimbiosis dengan bakteri rhizobium
radicola. Bakteri ini terdapat pada
bintil-bintil (nodula-nodula) akar
tanaman kacang tanah dan hidup bersimbiosis saling menguntungkan. Tanaman kacang tanah tidak dapat mengambil
nitrogen bebas (N2) dari udara tanpa bakteri rhizobium radicola. Sebaliknya bakteri ini tidak dapat mengikat
nitrogen tanpa bantuan tanaman kacang tanah (Rahmat, 2005).
B. Batang (Caulis)
Batang tanaman kacang
tanah berukuran pendek, berbuku-buku, dengan tipe pertumbuhan tegak atau
mendatar. Pada mulanya batang tumbuh
tunggal. Namun, lambat lau bercabang
banyak seolah-olah merumpun. Panjang
batang berkisar antar 30-50 cm atau lebih, tergantung jenis atau varietas
kacang tanah dan kesuburan tanah.
Buku-buku
(ruas-ruas) batang yang terletak didalam tanah merupakan tempat melekat akar,
bunga, dan buah.ruas-ruas batang yang berada di atas permukaan tanah merupakan
tempat tumbuh tangkai daun (Rahmat,
2005).
C. Bunga (Flos)
Kacang tanah mulai
berbunga pada umur 4-5 minggu. Bunga keluar dari ketiak daun. Bentuk bunganya
aneh. Setiap bunga seolah-olah bertangkai panjang berwarna putih. Ini
sebenarnya bukan tangkai bunga melainkan tabung kelopak. Mahkota bunganya (coroola) kuning. Bendera dari mahkota
bunganya bergari-garis merah pada pangkalnya. Umur bunganya hanya satu hari,
mekar di pagi hari dan layu di sore hari (Suprapto, 2004).
D. Buah (Fructus)
Kacang tanah berbuah
polong. Polongnya terbentuk setelah tejadi pembuahan. Setelah terjadi
pembuahan, bakal buah tumbuh memanjang. Inilah yang disebut dengan ginofora
yang nantinya akan menjadi tangkai polong. Mula-mula ujung ginofora yang
runcing mengarah ke atas. Setelah tumbuh, ginofora tersebut mengarah ke bawah
dan selanjutnya masuk kedalam tanah. Pada waktu ginofora menembus tanah,
peranan hujan sangat membantu. Setelah terbentuk polong, pertumbuhan memanjang
ginofora akan berhenti. Panjang ginofora dapat mencapai 18 cm. Ginofora yang
terbentuk di cabang bagian atas tidak masuk ke dalam tanah sehingga tidak membentuk
polong (Suprapto, 2004)
Ukuran
polong bervariasi, tergantung jenis atau varietasnya dan tingkat kesuburan
tanah. Polong berukuran besar biasanya
mencapai panjang 6 cm dengan diameter 1,5 cm (Rahmat, 2005).
E. Daun (Folium)
Menurut Suprapto
(2004), Kacang tanah berdaun majemuk bersirip genap, terdiri atas empat anak
daun dengan tangkai agak panjang. Helaian anak daun ini bertugas mendapatkan
cahaya matahari sebanyak-banyaknya.
Daun mulai gugur pada
akhir masa pertumbuhan dan dimulai dari bagian bawah. Selain berhubungan dengan
umur, gugur daun ada hubungannya dengan faktor penyakit (Suprapto, 2004).
F.
Biji
(Semen)
Menurut
Rahmat (2005), Biji kacang tanah berbentuk agak bulat
sampai lonjong, terbungkus kulit biji tipis bewarna putih, merah, ungu. Inti
biji (nucleus seminis) terdiri atas
lembaga (embrio), dan putih telur (albumen). Biji kacang tanah yang berkeping dua (dicotyledonae), juga merupakan alat
perbanyakan tanaman dan bahan makanan.
Ukuran biji kacang
tanah bervariasi, mulai dari kecil sampai besar. Biji kecil beratnya antara 250 g – 400 g per
1.000 butir, sedangkan biji besar lebih kurang 500 g per 1.000 butir.
Warna biji kacang tanah
bermacam-macam, ada yang putih, merah, ungu, dan kesumba. Kacang tanah yang
paling baik adalah yang berwarna kesumba (Suprapto, 2004).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Kacang tanah
2.2.1. Tanah
Tanah merupakan hal
mutlak yang perlu diadakan untuk meproduksi komoditas pertanian. Adapun yang
terkait dengan tanah ini yaitu jenis tanah dan keesuburan tanah.
A. Jenis tanah
Kacang tanah lebih
menghendaki jenis tanah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat
berpasir. Kemasaman (pH) tanah optimal adalah sekitar 6,0–7,0. Apabila pH tanah
lebih besar dari 7,0 maka daun akan berwarna kuning akibat kekurangan suatu
unsur hara ( N, S, Fe, Mn ) dan sering kali timbul bercak hitam pada polong
(Suprapto, 2004).
B. Kesuburan tanah
Disamping kondisi fisik
atau jenis tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kacang tanah, faktor
lain juga sangat berpengaruh untuk diperhatikan adalah kesuburan tanah.
Menurut Adisarwanto (2004),
kacang tanah merupakan salah satu tanaman yang memerlukan unsur hara yang cukup
banyak untuk memperoleh produksi tertentu.
1.
Kalsium
(Ca)
Unsur Ca merupakan hara
yang paling menentukan tingka kebernasan polong tanah. Oleh karena itu,
ketersediaannya dalam kategori cukup sangat dibutuhkan.
Kebutuhan kapur
pertanian (kaptan) dalam 1 hektar mencapai 300-400 kg. Itu berfungsi sebagai
hara dan pemberiannya yang paling tepat adalah pada umur 20-30 hst atau sebelum
pembentukan polong (Adisarwanto, 2004).
2.
Nitrogen
(N)
Unsur hara ini
dibutuhkan kacang tanah sebanyak 1-1,5 kali dibanding tanaman sereal (jagung
atau padi). Walaupun demikian, kacang tanah dapat memenuhi sebagian dari
kebutuhan N tersebut lewat penambatan N di udara melalui mikroba rizobium yang
mencapai 75-80 %. Untuk itu, pemberian N pada kacang tanah cukup sekitar 15-20
kg/ha (Suprapto, 2004).
3.
Fosfor
(P)
Di daerah pertanaman
kacang tanah sering kali tampak gejala kekurangan fosfor. untuk itu, unsur hara
P sangat diperlukan dalam budidaya kacang tanah. Pada kompos kotoran sapi sudah
terdapat P sebanyak 1,62%, maka untuk mencukupi kebutuhan P diberi pupuk SP-36
sebanyak 2,625 kg/300 m2. Jadi semua unsur hara phospor bisa
terpenuhi dengan adanya kombinasi antara pupuk kompos kotoran sapi dan pupuk
SP-36.
4.
Kalium
(K)
Pengaruh pemupukan K
terhadap hasil kacang tanah tidak selalu konstan dan tidak selalu kadar K dalam
tanah berhubungan dengan respon hasil. Hanya pada kadar K yang sangat rendah,
respon kacang tanah terhadap penambahan pupuk K akan terjadi. Itupun masih
dipengaruhi oleh tingkat pengelolaan tanaman. Dalam kotoran sapi sudah tersedia
K2O sebesar 7,62% dan kebutuhan K2O pada budidaya kacang
tanah adalah 60 kg/ha. Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut diberikan pupuk
kompos kotoran sapi 100% yaitu sebanyak 25 kg per 300 m2.
2.2.2. Iklim
Faktor iklim yang
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah adalah suhu,
cahaya, dan curah hujan.
A. Suhu
Menurut Adisarwanto
(2004), Suhu tanah merupakan faktor penentu dalam perkecambahan biji dan
pertumbuhan awal tanaman. Pada suhu tanah kurang dari 180 C,
kecepatan berkecambah akan lambat. Suhu tanah di atas 400 C justru
akan mematikan benih yang baru ditanam. Suhu tanah maksimum untuk perkembangan
ginofor adalah 300 – 340 C. Sementara suhu optimum untuk
perkecambahan benih kacang tanah adalah sekitar 200-300 C.
B. Cahaya
Intensitas cahaya yang
rendah pada saat pembentukan ginofor akan mengurangi jumlah ginofor. Di samping
itu, rendahnya intensitas penyinaran pada pengisian polong akan menurunkan
jumlah dan berat polong serta akan menambah jumlah polong hampa.
C. Curah Hujan
Total
curah hujan optimum selama 3 - 3,5 bulan atau sepanjang periode pertumbuhan
sampai panen adalah 300-500 mm, sangat ideal apabila hujan tersebut terbagi
merata selama pertumbuhan tanaman.
2.3.
Tinjauan
tentang Kompos Kotoran Sapi dan Jerami
Teknologi
pada budidaya ini yaitu pupuk kompos kotoran sapi dan jerami, kompos
adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami,
alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dan lain-lain. Proses
pelapukan kompos dapat dipercepat melalui bantuan manusia. Pengomposan berarti
merangsang perkembangan bakteri (jasad renik) untuk menguraikan bahan-bahan
yang dikomposkan agar terurai menjadi senyawa lain. Dalam proses penguraian
tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik sukar larut
menjadi senyawa organik larut (tersedia) sehingga langsung bisa diserap
tanaman. Pengomposan juga bertujuan menurunkan rasio C/N. Jika bahan organik
yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan dan langsung diberikan
ke dalam tanah maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah, mengakibatkan
CO2 dalam tanah meningkat sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan pada
tanah ringan mengakibatkan daya ikat terhadap air rendah serta struktur
tanahnya berserat dan kasar (Peni dan Teguh,2007)
Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari upaya
memanfaatkan kotoran hewan untuk dijadikan kompos, pembuatan pupuk organik
tidak terlepas dari proses pengomposan yang diakibatkan oleh mikroba yang
berperan sebagai pengurai atau dekomposisi berbagai limbah organik yang
dijadikan bahan pembuat kompos, dan secara langsung kompos digunakan untuk
lahan pertanian atau dapat dijual (Faisal dan Farida, 2013).
Di Indonesia rata-rata kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami
adalah 0,4 % N, 0,02 % P, 1,4 % K dan 5,6 % Si. Dan yang perlu diketahui adalah
ketika dipanen padi 5 ton/ha akan dihasilkan jerami sebanyak 7,5 ton yang
mengandung 45 kg N, 10 Kg P, 125 Kg K, 10 Kg S, 350 Kg Si, 30 Kg Ca 10 Kg Mg.
Manfaat jerami padi tersebut diantaranya menambah kesuburan tanah, menyuburkan
tanah secara fisika, jerami akan menjadi makanan mikroorganisme di permukaan
tanah, memiliki
unsur K yang tinggi yang membantu ketahanan batang tanaman.
III.
METODOLOGI PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan PUM
selama 4 bulan yaitu pada bulan September – Desember 2013. Tempat pelaksanaan
PUM ini adalah di lahan/ kebun Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh di
Tanjung Pati, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
3.2. Data dan Sumber Data
Jenis data selama pelaksanaan PUM terdiri
dari :
3.2.1.
Data Primer
Data
primer adalah data
yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti/penulis secara langsung dari
sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang
memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, penulis harus
mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus
grup discussion – FGD)
dan penyebaran kuesioner.
3.2.2.
Data Sekunder
Data Sekunder adalah data
yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti/penulis dari berbagai sumber yang
telah ada (peneliti/penulis sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh
dari berbagai sumber seperti Badan Pusat Statistik (BPS), buku, laporan,
jurnal, dan lain-lain.
3.3. Variabel yang di Ukur
Dalam pembuatan
proposal ini terdapat variabel yang akan diukur untuk kegiatan proyek usaha
mandiri ini, antara lain :
3.3.1.
Penerimaan
Penerimaan adalah total
jumlah penjualan/pendapatan yang akan diperoleh untuk suatu periode/satu musim
dengan melihat produksi dan harga dari produk.
Penerimaan yang
dihasilkan kacang tanah yaitu hasil penjualan dari panen kacang tanah dan
dihitung berdasarkan harga kacang tanah per kilonya.
Keterangan :
TR : Total penerimaan ( RP )
Y : Jumlah produksi ( Kg )
Py : Harga Jual produk ( Rp/kg )
3.3.2.
Keuntungan
( π )
Keterangan :
Ï€ : Keuntungan
( Rp )
TC : Total
Cost/ total biaya produksi ( Rp )
3.3.3.
R/C
Ratio
R/C
Ratio (Revenue/Cost
Ratio) adalah Variabel digunakan untuk mengukur layak atau tidaknya suatu
usaha dengan membandingkan antara jumlah pendapatan atau penerimaan yang
diperoleh (TR) dengan total biaya produksi yang dikeluarkan (TC). Berkut ini
adalah rumus R/C ratio :
![]() |
Suatu usaha bisa
dikatakan layak untuk dijalankan apabila R/C ratio-nya bernilai besar dari 1 (
>1 ). Apabila hasil R/C ratio-nya kurang dari 1 berarti nilai biaya lebih
besar daripada penerimaan maka itu berarti usaha tersebut mengalami kerugian
dan tidak layak untuk dijalankan.
3.3.4.
BEP
BEP
(Break Event Point) merupakan suatu
kondisi dimana laba sama dengan nol atau sering disebut dengan pulang modal dan
dengan kata lain, total penerimaan dengan total biaya bernilai sama atau
pendapatan dibagi dengan biaya sama dengan satu.
Analisis BEP produksi bertujuan untuk melihat pada
produksi berapa suatu usaha agribisnis akan impas. Analisis ini dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
BEP produksi = Total biaya (Rp)
Jumlah Produksi (Kg )
Namun hal itu dihitung
secara umum mengenai penrimaan dan biaya, dan BEP dapat dilihat berdasarkan :
A. BEP Produk
BEP produk merupakan
jumlah produk yang akan diproduksi untuk memperoleh BEP. Berikut ini adalah
rumus BEP produk :
Keterangan :
BEP : Break
Event Point (kg)
P : Price/ harga (Rp)
B. BEP harga
BEP harga merupakan
harga produk yang akan dijual untuk memperoleh BEP. Berikut ini adalah rumus
untuk memperoleh BEP produk :
![]() |
Keterangan :
Q : Quantity/ jumlah produksi (kg)
IV.
ASPEK
PASAR
4.1. Gambaran Umum Pasar
4.1.1. Jenis Produk yang dipasarkan
Jenis produk yang akan
dipasarkan yaitu kacang tanah polong basah yang berkualitas baik dengan
ciri-ciri polong kacang tanah berkulit keras, dan bewarna putih
kecokelat-cokelatan. Tiap polong berisi 1-3 biji atau lebih. Kacang tanah tidak
hitam, tidak berbubuk dan tidak keriput serta polong bernas.
4.1.2. Wilayah Pemasaran
Hasil
panen kacang tanah akan dijual di Tanjung Pati, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera
Barat. Di Kabupaten Lima Puluh Kota aspek pasar untuk kacang tanah memiliki
peluang besar karena masyarakat sekitar belum begitu membudidayakan kacang
tanah, hal ini terlihat dari permintaan dan peluang pasar yang masih tinggi.
4.2. Peluang dan Pangsa Pasar
Untuk
menjalankan suatu usaha maka harus diperhatikan apakah usaha tersebut layak
untuk dijalankan dan apakah komoditi dari jenis usaha tersebut memiliki peluang
pasar. Untuk mengetahui hal tersebut diperlukan beberapa data yang akan
menunjukkan apakah usaha tersebut memiki peluang pasar.
4.2.1. Potensi Permintaan
Potensi permintaan
dapat diketahui dari besarnya kebutuhan masyrakat atau konsumen terhadap suatu
produk terutama kacang tanah dalam bentuk polong basah. Dari hasil survey yang
telah dilakukan di BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Lima Puluh Kota dapat
diketahui bahwa kebutuhan kacang tanah
untuk konsumsi penduduk di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota sangat
besar.
A. Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Lima Puluh Kota
Tahun 2007-2011
Sebelum mengetahui
potensi dan proyeksi permintaan kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh kota maka
perlu dilihat perkembangan jumlah penduduk 5 tahun terakhir terlebih dahulu dan
proyeksi jumlah penduduk untuk beberapa tahun berikutnya.
Proyeksi permintaan
menggunakan trend regresi linear dengan rumus:
Y
= a + b X
Dimana :
a
= ΣY/n
b
= ΣXY/ΣX2
n = Jumlah tahun
Tabel 1. Perkembangan penduduk Kabupaten Lima Puluh
Kota tahun 2007-2011
Tahun
|
Koding (Y)
|
Jumlah Penduduk (Y)
|
XY
|
X2
|
2007
|
-2
|
339.022
|
-678.044
|
4
|
2008
|
-1
|
333.929
|
-333.929
|
1
|
2009
|
0
|
346.807
|
0
|
0
|
2010
|
1
|
350.699
|
350.699
|
1
|
2011
|
2
|
354.661
|
709.322
|
4
|
1.725.118
|
∑xy =48.048
|
∑ X2 = 10
|
n
= 5
a = ∑y/n b
= ∑xy/∑ X2
a = 1.725.118/5 b = 48.048/10
a = 345.024 b = 4.804,8
Y = a + bx
Y = 345.023,6 + 4.804,8
(x)
B. Permintaan Kacang Tanah
Dari hasil survei
rata-rata konsumsi kacang tanah 1 kk/hari adalah 64,3 g dengan jumlah rata-rata
1 kk = 6 orang.
Tabel 2. Hasil survei rumah tangga terhadap permintaan
kacang tanah di Tanjung Pati, Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2012
Komponen Survei
|
Jumlah
|
Jumlah sampel keluarga
|
40 kk
|
Rata-rata jumlah anggota keluarga
|
6 org
|
Rata-rata kebutuhan per minggu
|
450 g/kk
|
Rata-rata kebutuhan per bulan
|
1.800 g/kk
|
Rata-rata kebutuhan per tahun
|
21,6 kg/kk
|
Kebutuhan perkapita
|
3,6 kg
|
Sumber :(M. Riza, 2012)
Permintaan kacang tanah
di Kabupaten Lima Puluh Kota diketahui dari hasil survey 3,6 kg/orang/tahun.
Dari data-data yang
sudah diperoleh diatas yaitu dari data perkembangan pertumbuhan penduduk dan
data permintaan kacang tanah hasil survei di Kabupaten Lima Puluh Kota, maka
didapatlah potensi permintaan pasar terhadap produksi kacang tanah ini. Dan
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Potensi
permintaan kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2007-2011
Tahun
|
Jumlah Penduduk ( Jiwa )
|
Konsumsi Kacang Tanah (kg)
|
Permintaan Kacang Tanah (kg/th)
|
2007
|
339.022
|
3,6
|
1.220.479
|
2008
|
333.929
|
3,6
|
1.202.144
|
2009
|
346.807
|
3,6
|
1.248.505
|
2010
|
350.699
|
3,6
|
1.262.516
|
2011
|
354.661
|
3,6
|
1.276.780
|
C. Proyeksi Jumlah Penduduk dan Permintaan Kacang Tanah
di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Untuk meramalkan/
proyeksi jumlah penduduk tahun 2012 – 2017 digunakan persamaan Y = 345.023,6 + 4.804,8 (x). x
adalah koding tahun berikutnya.
Contoh : Tahun
2012, koding = 3
Y
= 345.023,6 + 4.804,8 (3)
Y
= 345.023,6 + 14.414
Y
= 359.438
Tabel 4. Proyeksi permintaan kacang tanah di Kabupaten
Lima Puluh Kota tahun 2013-2017
Tahun
|
Jumlah Penduduk
|
Kebutuhan Rata-rata kg/Jiwa/Tahun
|
Proyeksi Permintaan Kacang Tanah (kg)
|
2013
|
364.243
|
3,6
|
1.311.275
|
2014
|
369.048
|
3,6
|
1.328.573
|
2015
|
373.852
|
3,6
|
1.345.867
|
2016
|
378.657
|
3,6
|
1.363.165
|
2017
|
383.462
|
3,6
|
1.380.463
|
Proyeksi Permintaan = rata-rata
permintaan/jiwa/tahun x jumlah penduduk
Dari tabel 4 di atas maka dapat diambil kesimpulan
bahwa rata-rata terjadi peningkatan tentang potensi permintaan kacang tanah di
Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2007-2011 dan peningkatan pada tahun 2013-2017.
4.2.2. Potensi Penawaran
Potensi penawaran
merupakan jumlah produksi yang dihasilkan oleh suatu komoditi tertentu dan
dapat mengisi kebutuhan konsumen terhadap komoditi tersebut.
Potensi penawaran
kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2007-2011 dapat dilihat pada
Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Potensi penawaran kacang tanah di Kabuapten
Lima Puluh Kota tahun 2007-2011
Tahun
|
Koding (X)
|
Produksi dalam ton (Y)
|
XY
|
X2
|
2007
|
-2
|
198
|
-396
|
4
|
2008
|
-1
|
183
|
-183
|
1
|
2009
|
0
|
230
|
0
|
0
|
2010
|
1
|
341,26
|
341,26
|
1
|
2011
|
2
|
298,32
|
596,64
|
4
|
∑Y = 1250,58
|
∑XY = 358,9
|
∑X2 = 10
|
n
= 5
a = ∑y/n b
= ∑xy/∑ X2
a = 1.250,58/5 b = 358,9/10
a = 250,116 b = 35,89
Y = a + bx
Y
= 250,116 + 35,89 (x)
Untuk meramalkan
penawaran tahun 2012 – 2017 (6 tahun berikutnya) digunakan persamaan Y = 250,116 +
35,89 (x). Dimana x adalah
koding tahun berikutnya.
Contoh : Tahun
2012, koding = 3
Y
= 250,116 + 35,89 (3)
Y
= 250,116 + 107,67
Y = 357,79
Tabel 6. Proyeksi penawaran kacang tanah di Kabupaten
Lima Puluh Kota tahun 2013 – 2017
Tahun
|
Penawaran (ton)
|
2013
|
393,68
|
2014
|
429,57
|
2015
|
465,46
|
2016
|
501,35
|
2017
|
537,24
|
Berdasarkan Tabel 6 terjadi peningkatan penawaran
kacang tanah sampai tahun 2017. Proyeksi penawaran kacang tanah ini diketahui
untuk mencari proyeksi peluang pasar, dimana besarnya peluang pasar tergantung
besar penawaran juga.
4.2.3. Proyeksi Peluang pasar
Peluang pasar diperoleh
dari hasil selisih antara permintaan dengan penawaran produk yang akan
dipasarkan.
Peluang
Pasar = Permintaan – Penawaran
Untuk peluang pasar
kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat di lihat pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Proyeksi
peluang pasar kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2013 – 2017
Tahun
|
Permintaan (ton)
|
Penawaran (ton)
|
Peluang Pasar (ton)
|
2013
|
1.311,28
|
393,68
|
917,60
|
2014
|
1.328,57
|
429,57
|
899,01
|
2015
|
1.345,87
|
465,46
|
880,41
|
2016
|
1.363,17
|
501,35
|
861,82
|
2017
|
1.380,46
|
537,24
|
843,23
|
Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa proyeksi
peluang pasar kacang tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup besar. Kebutuhan konsumen akan kacang tanah dari tahun
ke tahun semakin meningkat. Dan jika suatu usaha memilik peluang pasar yang
cukup besar maka usaha tersebut layak untuk dijalankan.
4.2.4.
Pangsa
Pasar
Setelah didapat
data-data seperti pertumbuhan penduduk, jumlah produksi, kebutuhan atau
permintaan masyarakat akan kacang tanah, dan peluang usaha kacang tanah maka
juga bisa ditentukan pangsa pasar.
Tabel 8. Rencana penjualan dan pangsa pasar kacang
tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2013-2017
Tahun
|
Peluang Pasar (ton)
|
Penjualan (ton)
|
Pangsa Pasar (%)
|
2013
|
917,60
|
0,18
|
0,01961639
|
2014
|
899,01
|
0,18
|
0,02002202
|
2015
|
880,41
|
0,18
|
0,02044502
|
2016
|
861,82
|
0,18
|
0,02088603
|
2017
|
843,23
|
0,18
|
0,02134649
|
4.3. Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran
dilakukan untuk mengatur proses penjualan produk supaya memberikan hasil yang
memuaskan dan memperoleh keuntungan yang sesuia dengan yang diinginkan.
Dalam strategi
pemasaran kacang tanah dilakukan dengan 4 komponen yang akan dilihat yaitu
sebagai berikut :
4.3.1. Strategi Produk
Produk yang akan dijual
yaitu kacang tanah polong basah yang berkualitas baik dengan kriteria sebagai berikut :
- Kacang tanah tidak hitam, tidak berbubuk dan keriput, dan
- Polong bernas
4.3.2. Strategi Harga
Strategi yang digunakan
adalah penentuan harga berdasarkan harga pasar (price based market). Artinya harga kacang tanah
dijual berdasarkan harga pasar yaitu dengan harga Rp 10.000,-/kg.
4.3.3. Strategi Tempat dan Distribusi
Proses ditribusi produk
ini tidak begitu sulit, setelah kacang tanah dipanen, pedagang pengumpul
langsung membeli kacang tanah tersebut ke tempat panen (lahan).

Gambar
1. Jalur distribusi produk kacang tanah
4.3.4. Strategi promosi
Strategi yang dilakukan
yaitu penjualan pribadi (personal selling),
dimana dalam pemasaran kacang tanah ini dilakukan suatu usaha untuk menjual
produk ke pedagang pengumpul seperti menginformasikan produk ini dan biasanya
kegiatan ini dilakukan melalui pembicaraan saja tanpa adanya suatu lembaran
ataupun brosur yang menjelaskan tentang produk yang akan dijual sehingga dengan
langsung bicara kepada pembeli tersebut maka maksud dan tujuan yang inginkan disampaikan
bisa dijelaskan dengan baik.
V.
ASPEK
PRODUKSI
5.1. Produk
Proyek usaha mandiri
yang akan dilakukan yaitu budidaya kacang tanah dengan produk yang dipasarkan
yaitu kacang tanah polong basah dan
benih yang digunakan adalah varietas Gajah.
Kegunaan utama produk yaitu untuk penggunaan tambahan bahan pangan maupun
produk makanan lainnya seperti kacang tojin, martabak, es
krim, dan lain-lain
5.2. Proses Produksi
Pertanaman kacang tanah
lahan kering cukup luas, mencapai 70% dari total pertanaman kacang tanah di
Indonesia. Di lahan kering, 65% sumber pendapatan petani berasal dari usaha
tani kacang tanah (Adisarwanto, 2004).
Ada beberapa komponen
teknologi produksi kacang tanah yang harus dicermati, diperhatikan dan dilaksanakan
secara utuh agar mencapai produktivitas maksimum.

Gambar 2. Skema/alur
proses produksi
A. Pengadaan Benih
Menurut Rahmat (2005),
benih yang baik merupakan faktor penentu dalam usaha kacang tanah. Produksi
tinggi dipengaruhi oleh keberhasilan pemilihan benih. Benih kacang tanah yang
memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.
Berasal dari pemanenan yang baru dan
varietas unggul ;
2.
Daya tumbuh tinggi (lebih dari 90%) dan
sehat ;
3.
Kulit benig mengkilap, tidak keriput
atau cacat ;
4.
Berasal dari polong tua, rata-rata berbiji
dua macam dan seragam ;
5.
Murni dan tidak tercampur denga produk
lain.
Dalam budidaya kacang
tanah ini benih yang digunakan adalah benih yang memenuhi kriteria diatas salah
satunya yaitu benih varietas gajah.
Kebutuhan benih per
satuan luas lahan amat tergantung pada jarak tanam, jumlah biji (benih) per
lubang, dan bobot (berat) 100 butir benih. Prakiraan kebutuhan benih kacang
tanah per satuan luas lahan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
|
|
Keterangan ;
X : Kebutuhan Benih
L : Luas areal (lahan)
d1 : Jarak tanam dalam barisan
d2 : Jarak tanam antar barisan
S : Bobot (Berat) 100
butir benih
n : Jumlah benih per lubang tanam
Dalam pelaksanaan
Proyek Usaha Mandiri ini memerlukan Luas lahan yaitu 300 m2 namun
lahan efektif hanya 228 m2 atau 76% dengan jarak tanam 40 cm X 20 cm
dan jumlah benih per lubang tanam yaitu sebanyak 1 benih, sedangkan bobot
(berat) 100 butir benih kacang tanah varietas gajah adalah 50 g. Maka dari data
diatas dapat dihitung kebutuhan benihnya sebagai berikut :
X = ( 300 m2/40 cm x 20 cm
) x ( 50/100 ) x 1 x 76%
= 300/0,08 X ½ X 76%
= 1,425 kg
Penyulaman = 10%, maka
:
Kebutuhan benih = 1,425 + 1,425 (10%)
Jadi, budidaya kacang tanah ini
memerlukan benih sebanyak 1,6 kg per
300 m2.
B. Persiapan Lahan
Persiapan lahan yang
dilakukan yaitu penentuan lahan tempat berusaha yang akan ditentukan oleh Pihak
Program Studi dan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Pengolahan yang
dilakukan diantaranya pengolahan lahan dengan traktor dan kemudian dilakukan
pengolahan manual. Setiap usaha yang dilakukan dalam proses produksi ini
dinilai secara ekonomis.
Setelah pengolahan
lahan dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan pembuatan bedengan, pembuatan
saluran drainase, dan pemberian pupuk
dasar.
Pemberian kompos
kotoran sapi dan kapur serta jerami padi yaitu dilakukan sebelum tanam atau
setelah persiapan lahan selesai dengan dosis 25 kg/300 m2. kompos
kotoran sapi dan kapur serta jerami diolah bersamaan dengan tanah selama 15
hari. Pupuk kompos kotoran sapi hanya diberikan satu kali dalam satu periode
yaitu diberikan setelah persiapan lahan.
C. Penanaman
Penanaman dilakukan 1-2
minggu setelah pengolahan lahan dan jarak tanamnya yaitu 40 cm x 20 cm dengan
cara-cara sebagai berikut :
a. Pilih
benih kacang tanah yang memenuhi persyaratan benih bermutu tinggi.
b. Masukkan
benih kacang tanah 1 butir ke dalam lubang tanam yang sudah dibuatkan
sebelumnya sesuai dengan jarak tanam.
c. Kemudian
dibuat lubang pupuk di kiri dan kanan lubang tanam sejauh ± 5 cm seperti gambar
3 dibawah ini.
d. Tutup
lubang tanam dengan tanah tipis.

Gambar 3. Lubang
tanam dan lubang pupuk
D. Pemeliharaan
Setelah penanaman maka
tanaman kacang tanah ini harus dipelihara denga baik dan dengan ketentuan
pemeliharaan yang terpadu sebagai berikut :
1.
Penyulaman
Benih kacang tanah akan
tumbuh setelah 3-7 hari setelah tanam (hst). Apabila dalam waktu tersebut ada
benih yang tidak tumbuh, harus segera disulam. Penyulaman bertuuan untuk
mempertahankan jumlah populasi optima
per satuan luas lahan.
Penyulaman dilakukan
dengan membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu. Kemudian
pada lubang diisi 1 benih kacang tanah yang baru. Benih tersebut segera ditutup
dengan tanah tipis (Rahmat, 2005)
2.
Pemupukan
Berdasarkan perhitungan
pupuk yang dilakukan dan dituliskan dilampiran yaitu kebutuhan kompos kotoran
sapi adalah 25 kg per 300 m2.
Kemudian pemberian
kapur dianjurkan sebanyak 400 kg/ha, maka pada lahan 300 m2
diberikan kapur sebanyak 12 kg.
Selanjutnya pemberian
SP-36 sebanyak 2,625 kg dan Urea sebanyak 0,716 kg per 300 m2. Untuk
perhitungan pupuk-pupuk tersebut bisa dilihat pada lampiran. Pemupukan
dilakukan secara larikan dan dihitung dosisnya sesuai dengan bedengan.
Pemberian pupuk dilakukan secara larikan dengan jarak 5 cm dari lubang tanam.
3.
Penyiangan
dan pembumbunan
Rumput liar (gulma)
yang tumbuh di lahan penanaman menjadi pesaing tanaman utama dalam hal
kebutuhan air, unsur hara, dan sinar matahari. Disamping itu, gulma juga
menjadi sarang hama dan penyakit. Oleh karena itu gulma harus dibersihkan
(disiangi).
Penyiangan dilakukan
pada waktu tanaman berumur 21 dan 37 hst. Pada penyiangan yang pertama, caranya
dengan membersihkan rumput liar secara hati-hati agar tidak mengganggu tanaman
utama. Alat bantu penyiangan yaitu kored atau parang (Rahmat, 2005).
Pada saat penyiangan
yang kedua dilakukan pembumbunan, yaitu tanah digemburkan, kemudian pangkal
batang tanaman ditimbun dengan tanah, tujuannya untuk memudahkan bakal buah
(Gynofor) menembus permukaan tanah, sehingga pertumbuhannya optimal ( Rahmat,
2005).
4.
Pengairan
Pada fase pertumbuhan,
tanaman kacang tanah membutuhkan pengairan yang memadai, terutama di musim
kemarau. Waktu pengairan yang paling tepat adalah pagi dan sore hari.
Kebutuhan air harus
tetap dioptimalkan sampai tanaman berumur 3 minggu dan pengairan dihentikan 10
hari sebelum panen untuk memudahkan pemanenan.
5.
Pengendalian
hama dan penyakit
Menurut Adisarwanto
(2004), Serangan hama pada tanaman kacang tanah relatif tidak begitu serius
dibanding dengan penyakit. Penyakit yang perlu dikendalikan adalah bercak daun
awal ( serangan pada umur 21-35 hst) dan bercak daun akhir (pada umur 40-55 hst),
yaitu dengan fungisida pada umur 49 dan 56 hst.
Gulma yang tidak
dikendalikan secara sempurna dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, untuk itu
diupayakan agar gulma tidak terlalu banyak bahkan jika bisa tidak ada gulma
dilahan.
6.
Panen
Untuk mengetahui kacang tanah dapat di panen biasanya tanaman berumur 70 –
80 hari, dilihat dari kriterianya yaitu batangnya sudah mengeras, daunnya telah
menguning, polong sudah berisi penuh dan keras, dan warna polong tampak coklat kehitaman. Panen
dilakukan dengan mencabut tanaman satu persatu secara perlahan-lahan agar tidak
ada polong yang tertinggal di dalam bongkahan tanah.
Kemudian perakaran dibersihkan dari tanah dengan cara
digoyang-goyangkan. Jumlah produksi kacang tanah untuk 300
m2 adalah 60 kg kacang tanah dengan polong basah dan semua produksi
dijual kepada pedagang pengumpul.
5.3. Teknologi Produksi
Teknologi yang
digunakan pada budidaya kacang tanah ini adalah kompos kotoran sapi dan jerami
namun daripada itu, kapur juga tidak terlepas dari pemupukan yang dilakukan.
Karena kapur disini berfungsi untuk menetralkan pH tanah. Dan
juga kapur ini berfungsi menambah ketersediaan unsur-unsur Kalsium (Ca) dan
memperbaiki kehidupan mikroorganisme dan memperbaiki pembentukan bintil-bintil
akar. Sedangkan penggunaan jerami disini yaitu dijadikan sebagai bahan kompos untuk
menambah unsur hara dalam kompos kotoran sapi.
Kompos secara umum berdampak baik terhadap sifat dan karakteristik
biogeofisik tanah. Peranan yang cukup mencolok adalah fungsinya dalam
memperbaiki struktur tanah, sirkulasi udara serta menahan dan memberikan air. kepada tanaman. Tanah-tanah yang padat atau berat dapat menjadi lebih ringan jika secara
kontinyu diberikan kompos. Sedangkan tanah-tanah yang ringan (tanah yang banyak
mengandung pasir) jika diberi kompos secara periodik menjadi lebih baik dalam menyimpan air (tidak
cepat menjadi kering). Disamping itu
kompos juga memberikan lingkungan
hidup yang baik untuk kerhidupan
organisma tanah.
Adapun langkah-langkah dalam
pembuatan kompos kotoran sapi pada luas lahan 300 m2 adalah sebagai
berikut :
5.3.1.
Persiapan
Alat dan Bahan
A. Peralatan
·
Sekop
·
Saringan
·
Timbangan
B. Bahan
· Kotoran Sapi
(100 kg)
· EM4 0.25 %
(0,25 L)
· Bahan
Organik (jerami padi) 70 kg.
· Kapur 3 % (3
kg)
5.3.2.
Alur Proses
Pembuatan Pupuk Kompos

Gambar 4. Alur proses pembuatan pupuk kompos
5.3.3.
Proses
Pembuatan Pupuk Kompos Kotoran sapi dan Jerami
A. Penimbangan
Bahan yang
sudah disiapkan ditimbang terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan standar
formulasi yang sudah ditentukan. Persentase penggunaan bahan tambahan
disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku kotoran sapi agar dalam proses dekomposisi sesuai dengan
apa yang diharapkan.
B. Pencampuran dan Penumpukan
Pencampuran
bahan dilakukan dengan menaburkan bahan-bahan lain pada tumpukan kotoran sapi
dengan formulasi; Kotoran Sapi (100 kg), EM4 0.25 % (0,25 L), Bahan Organik
(jerami padi) 70 kg dan Kapur 3 % (3 kg) Penaburan dilakukan sedikit demi
sedikit agar bahan tambahan tercampur dengan baik/ homogen.
Tumpukan
bahan dibuat dengan tinggi 1.5 sampai 2 meter dan panjang 2 meter membentuk
bedengan dan dibiarkan selama 5 hari. Hal ini bertujuan untuk mencapai
temperatur tumpukan yang maksimum yaitu 60-70 ºC dan agar bahan baku kompos
cepat dipanen. Penimbangan, pencampuran, dan penumpukan membutuhkan waktu
selama 20 menit.
C. Monitoring
Pengontrolan
dilakukan selama proses dekomposisi berlangsung yaitu setiap satu minggu sekali
dengan melihat perubahan yang ditimbulkan. Pada proses dekomposisi, perubahan
yang dihasilkan bisa dilihat pada waktu pembalikan berlangsung, yaitu suhu
panas yang ditimbulkan bahan baku yang terdekomposisi, tekstur, aroma dan warna.
D. Pembalikan
Pembalikan
dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam
tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan
pemberian air (60 % kadar air bahan), serta membantu penghancuran bahan menjadi
partikel kecil-kecil.
Pembalikan
dilakukan sebanyak 5 kali dengan waktu 1 minggu sekali. Setiap 1 minggu
dilakukan pembalikan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung
dalam tumpukan kompos kotoran sapi tersebut dan setiap pembalikan membutuhkan
waktu selama 5 menit.
E. Pendinginan
Setelah
proses pengomposan berjalan selama 30-40 hari suhu tumpukan akan semakin
menurun. Pada saat itu bahan kompos akan lapuk dan terlihat berwarna coklat tua
serta tidak menimbulkan bau amoniak. Proses pendinginan berjalan selama 15 hari
sampai kompos terasa dingin mencapai suhu ruangan yaitu 25 ºC. Dalam mengatur
proses ini membutuhkan waktu selama 3 menit.
F. Penyaringan
Penyaringan
dilakukan setelah proses pendinginan selesai sampai kompos benar-benar matang.
Penyaringan bertujuan untuk menyelaraskan ukuran kompos serta memisahkan
bahan-bahan yang tidak diharapkan seperti plastik atau benda yang tidak
terdekomposisi. Penyaringan dilakukan selama 15 menit.
G. Panen/Pengemasan Kompos Kotoran Sapi
Kompos yang
telah jadi dicirikan dengan warnanya yang kehitaman, bentuknya gembur (remah),
dan tidak berbau. Pengemasan bisa dilakukan dengan menggunakan karung, setelah
itu kompos sudah bisa digunakan atau dipakai untuk keperluan pertanian.
Pengemasan dilakukan selama 20 menit.
5.4. Lay Out Proses Produksi
Lay out proyek usaha
mandiri pada tanaman kacang tanah untuk luasan 300 m² dapat dilihat pada gambar
5 dibawah ini :
20
meter 19 meter
Gambar
5. Lay out proses produksi kacang tanah
Keterangan :
· Panjang
Bedengan : 19 meter
· Lebar
Bedengan : 1,2 m
· Jumlah
Bedengan : 10
· Drainase : 0,3 m
· Jarak
Tanam : 40 cm X 20 cm
· Tinggi
Bedengan : 30 cm
5.5. Jadwal Pelaksanaan PUM
Jadwal kegiatan proyek usaha mandiri mulai dari pengolahan tanah sampai panen
dapat dilihat pada tabel 9 berikut :
Tabel
9 . Distribusi
jadwal kegiatan PUM 2013
Kegiatan
|
Bulan/Minggu
|
|||||||||||||||
September
|
Oktober
|
November
|
Desember
|
|||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Pengadaan
Benih dan Saprodi
|
||||||||||||||||
Persiapan
Lahan
|
||||||||||||||||
Pemberian
pupuk Kompos kotoran sapi, kapur, dan jerami
|
||||||||||||||||
Penanaman
|
||||||||||||||||
Pemeliharaan
|
||||||||||||||||
Panen
dan pasca panen
|
||||||||||||||||
Pembuatan kompos
kotoran sapi tidak diberikan waktu yang spesifik karena dalam budidaya kacang
tanah tidak terdapat proses pembuatan kompos. Jadi pembuatan kompos dilakukan
di luar jadwal pelaksanaan.
VI.
ASPEK
FINANSIAL
6.1. Rencana Biaya Produksi
6.1.1.
Investasi (Biaya pembelian alat)
Tabel 10. Rencana biaya pembelian alat untuk budidaya
kacang tanah untuk lahan 300 m2.
No
|
Jenis alat
|
Satuan
|
Jumlah Alat
|
Harga per unit (Rp)
|
Biaya (Rp)
|
1
|
Cangkul
|
Buah
|
1
|
45.000
|
45.000
|
2
|
Kored
|
Buah
|
1
|
10.000
|
10.000
|
3
|
Ember
|
Buah
|
1
|
10.000
|
10.000
|
4
|
Garu
|
Buah
|
1
|
30.000
|
30.000
|
5
|
Meteran
|
Buah
|
1
|
10.000
|
10.000
|
6
|
Gembor
|
Buah
|
1
|
35.000
|
35.000
|
7
|
Sekop
|
Buah
|
1
|
40.000
|
40.000
|
Jumlah
|
180.000
|
||||
6.1.2.Rencana
Biaya Penyusutan Alat
Tabel
11. Rencana biaya penyusutan alat dalam budidaya kacang tanah
No
|
Jenis alat
|
Nilai beli (Rp)
|
Nilai sisa
|
Umur ekonomis
|
Depresiasi/tahun
|
Depresiasi/priode
|
1
|
Cangkul
|
45.000
|
2.250
|
3
|
14.250
|
4.750
|
2
|
Kored
|
10.000
|
500
|
2
|
4.750
|
1.583
|
3
|
Ember
|
10.000
|
500
|
1
|
9.500
|
3.167
|
4
|
Garu
|
30.000
|
1.500
|
3
|
9.500
|
3.167
|
5
|
Meteran
|
10.000
|
500
|
2
|
4.750
|
1.583
|
6
|
Gembor
|
15.000
|
750
|
2
|
7.125
|
2.375
|
7
|
Sekop
|
40.000
|
2.000
|
3
|
12.667
|
4.222
|
Jumlah
|
62.542
|
20.847
|
||||
6.1.3.
Rencana
Biaya Bahan Baku
Tabel 12. Rencana biaya bahan baku yang dibutuhkan
untuk budidaya kacang tanah dengan luas lahan 300 m2.
No
|
Nama bahan
|
Satuan
|
Jumlah
|
Harga satuan (Rp)
|
Biaya (Rp)
|
1
|
Tali rafia
|
Gulung
|
1
|
3.000
|
3.000
|
2
|
Benih
|
Kg
|
1,6
|
35.000
|
56.000
|
3
|
Pupuk kandang
|
Kg
|
100
|
100
|
10.000
|
4
|
SP-36
|
Kg
|
2,625
|
3000
|
7.875
|
5
|
KCL
|
Kg
|
0,716
|
2500
|
1.790
|
6
|
Jerami
|
Kg
|
70
|
50
|
3.500
|
7
|
EM4
|
Liter
|
0,25
|
20.000
|
5.000
|
8
|
Karung
|
Buah
|
3
|
2.000
|
6.000
|
9
|
Kapur
|
Kg
|
15
|
1.000
|
15.000
|
Jumlah
|
108.165
|
||||
Catatan
: Pembelian pupuk kandang 100, jerami 100
kg dan kapur sebanyak 3 dari 15 kg adalah untuk pembuatan kompos.
6.1.4.
Biaya
Tenaga Kerja
Tabel 13. Rencana biaya tenaga kerja budidaya kacang
tanah untuk lahan 300 m2
No
|
Jenis kegiatan
|
Waktu
|
Jumlah
|
Upah
|
Biaya
|
1
|
Pembuatan Kompos Kotoran Sapi
|
1,417 jam
|
0,202 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
10.119
|
2
|
Penyiapan tanah I dengan traktor
|
-
|
300 m2
|
Rp
150
|
Rp
45.000
|
3
|
Penyiapan lahan
|
14 jam
|
2 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp 100.000
|
4
|
Pemberian kompos kotoran sapi, kapur dan jerami
|
1 jam
|
0,143 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
7.143
|
5
|
Penanaman
|
2 jam
|
0,286 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
14.286
|
6
|
Penyiraman I,II,III
|
1 jam
|
0,143 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
7.143
|
7
|
Penyulaman
|
1 jam
|
0,143 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
7.143
|
8
|
Penyiangan
|
2 jam
|
0,286 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
14.286
|
9
|
Pembumbunan
|
2 jam
|
0,286 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
14.286
|
10
|
Panen
|
4 jam
|
0,571 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
28.571
|
11
|
Pemasaran
|
2 jam
|
0,286 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
14.286
|
Jumlah
|
Rp 262.262
|
Jumlah tenaga kerja
diperoleh dari 1 HKO = 7 jam, 1 jam = 60 menit maka 7 x 60 = 420, jadi rumus biaya tenaga kerja
ialah waktu yang dipakai dibagi 420. Misalnya penanaman 120 menit dibagi 420 maka hasilnya 0,286
HKO. Dan untuk
rincian jumlah tenaga kerja pada pembuatan kompos kotoran sapi dapat dilihat
pada lampiran.
6.1.5.
Biaya Over Head
Tabel
14. Rencana biaya over head yang dibutuhkan dalam satu periode
No
|
Jenis Pembiayaan
|
Perhitungan
|
Total (Rp)
|
1.
|
Sewa Tanah
|
300/10.000 X
Rp 300.000.000 X 4/12 |
3.000
|
2.
|
Transportasi selama produksi
|
2 x Rp 10.000
|
20.000
|
Jumlah
|
23.000
|
||
6.1.6.
Rekapitulasi
Biaya
Tabel 15. Rekapitulasi biaya yang dibutuhkan dalam satu
periode
No
|
Jenis Biaya
|
Total ( Rp )
|
1
|
Depresiasi
|
20.847
|
2
|
Biaya bahan
|
108.165
|
3
|
Biaya tenaga kerja
|
262.262
|
4
|
Biaya lain – lain
|
23.000
|
Jumlah
|
414.274
|
|
6.2. Rencana Produksi
dan Penerimaan
6.2.1.
Produksi
Tabel 16. Rencana
produksi untuk satu periode dengan luas lahan 300 m²
No
|
Produksi
|
Satuan Produksi
|
Jumlah
|
1
|
Kacang tanah
|
Kg
|
300/10.000x2000 kg
|
Jumlah
|
60 kg
|
||
Ket
: Hasil produksi kacang tanah adalah 2,0 ton/ha (Depatemen Agronomi dan
Hortikultura IPB, 2008 )
6.2.2.
Penerimaan
Tabel 17. Rencana
Penerimaan
untuk satu periode dengan luas lahan 300
m2
No.
|
Jenis Produk
|
Harga per kg (Rp)
|
Produksi (kg)
|
Pendapatan (Rp)
|
1.
|
Kacang Tanah
|
10.000
|
60
|
600.000
|
Jumlah
|
600.000
|
|||
6.3.
Analisis
Biaya dan Pendapatan
Tabel 18. Analisa laporan rugi laba selama
satu periode
No.
|
Keterangan
|
Jumlah (Rp)
|
Total (Rp)
|
A.
|
Pendapatan
|
||
Utama
|
600.000
|
||
Sampingan
|
-
|
||
Total pendapatan
|
600.000
|
||
B.
|
Biaya
|
||
Biaya Tetap
|
|||
Depresiasi
|
20.847
|
||
Biaya lain-lain
|
23.000
|
||
Total Biaya Tetap
|
43.847
|
||
Biaya Variabel
|
|||
Biaya bahan
|
108.165
|
||
Biaya tenaga kerja
|
262.262
|
||
Total biaya Variabel
|
370.427
|
||
C.
|
Total Biaya
|
414.274
|
|
D.
|
Laba
|
185.726
|
|
E.
|
BEP Harga
|
6.905
|
|
F.
|
BEP Produksi
|
41,4 kg
|
Keterangan
:
§ Total
biaya didapat dari = total biaya tetap + total biaya variabel
§ Laba
didapat dari = total pendapatan – total biaya
6.4. Analisis
Finansial
A.
Keuntungan
:
- Pendapatan = Rp 600.000,-
- Biaya =
(Rp 414.274,-)
v Keuntungan = Rp 185.726,-
B.
Revenue/Cost ratio :
R/C ratio = Pendapatan
Biaya
R/C ratio = Rp 600.000,- = 1,45 ( > dari
1 proyek layak )
Rp 414.274,-
C.
BEP Produksi = Total biaya
harga
= Rp 414.274,- =
41,4 Kg
Rp 10.000,-
D.
BEP Harga = Total biaya
Jumlah
produksi
= Rp 414.274,-
60 Kg
= Rp 6.905,-/kg
DAFTAR
PUSTAKA
AAK. 2003. Kacang tanah. Kanisius,
Yogyakarta. 84 hal
Adisarwanto.
2004. Meningkatkan produksi kacang tanah di lahan sawah dan lahan kering.
Penebar swadaya, Jakarta. 88 hal
BPS. 2012. Lima Puluh kota
dalam angka. BPS Kabupaten Lima Puluh Kota.
Payakumbuh
Departemen
Agronomi dan Hortikultura. 2008. Laporan praktek usaha pertanian produksi benih
kacang tanah varietas gajah. Fakultas pertanian IPB, Bogor.
Faisal
Matenggomena dan Farida Sukmawati. 2013. http://Nilai-Tambah-Kompos-dari-Kotoran-Sapi.html
diakses pada 17 april 2013
Maspary. 2010. Kandungan unsur hara
dalam jerami padi. www.gerbangpertanian.com
diakses 10 juni 2013
Peni wahyu prihandini danTeguh
purwanto. 2007. Petunjuk pemnbuatan kompos berbahan kotoran sapi. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
Rahmat Rukmana. 2005. Kacang Tanah. Kanisius. Yogyakarta.77 hal
Rizki
Ramadhani. – http://justkie.wordpress.com/author/kie273/
- diakses pada 15
april
2013
Suprapto. 2004. Bertanam kacang tanah.
Penebar swadaya, Jakarta. 32 hal
Sutanto. 2002. Pertanian organik. Kanisius,
Yogyakarta. 218 hal
Yoggi Prayoga. 2012. Modul pembuatan pupuk kompos
kotoran sapi, http://sapigilalaku.blogspot.com
diakses pada 5 mei 2013
LAMPIRAN
Hasil analisis laboratorium Loka Penelitian Sapi
Potong dan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Timur terhadap
kompos organik produksi Loka Penelitian Sapi Potong, datanya tertera pada Tabel
berikut :
No
|
Parameter
|
Nilai (%)
|
1
|
Kadar Air (%)
|
24,21
|
2
|
Nitrogen (%)
|
1,11
|
3
|
C. Organik (%)
|
18,76
|
4
|
C/N ratio (%)
|
16,9
|
5
|
Phospor (%)
|
1,62
|
6
|
Kalium (%)
|
7,26
|
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
A.
Kebutuhan Pupuk
Kompos Kotoran Sapi per 300 m2 pada Kacang Tanah
Kebutuhan Kalium adalah 60 kg K/ha, maka
pada lahan 300 m2 adalah sebagai berikut :
=
X 60 kg
=
1,8 kg K per 300 m2
Kadar
K dalam kompos kotoran sapi adalah 7,26% berarti 0,0726 dari total kompos
kotoran sapi. Maka untuk mencari kebutuhan kompos kotoran sapi untuk luas 300 m2
adalah dengan rumus :
B. Kebutuhan Pupuk SP-36 per 300 m2
pada Kacang Tanah
Dalam 25 kg kompos
kotoran sapi terdapat 1,62% phospor yaitu sebesar :
25 X 1,62% = 0,405 kg P, dan kebutuhan P2O2 pada kacang
tanah adalah 45 kg per hektar atau 1,35
kg per 300 m2 . Maka P2O2
yang dibutuhkan adalah sebanyak 0,945
kg, kadar P2O2 dalam
SP-36 adalah 36%. Maka kebutuhan SP-36 adalah :
C. Kebutuhan Pupuk Urea per 300 m2
pada Kacang Tanah
Dalam 25 kg kompos
kotoran sapi terdapat 1,11% Nitrogen yaitu sebesar :
25 X 1,11% = 0,2775 kg N dan kebutuhan N pada kacang tanah adalah 20 kg per
hektar atau 0,6 kg per 300 m2.
Maka kebutuhan N per 300 m2 adalah 0,3225 kg N. Kadar N dalam Urea adalah 45%, maka kebutuhan Urea
adalah :
LAMPIRAN
Berikut ini adalah
rincian jumlah tenaga kerja dalam pembuatan kompos kotoran sapi untuk budidaya
kacang tanah pada luas lahan 300 m2 dengan bahan kotoran sapi
sebanyak 100 kg, jerami 100 kg, kapur 3 kg, EM-4 0,25 liter.
No
|
Jenis kegiatan
|
Waktu
|
Jumlah
|
Upah
|
Biaya
|
1.
|
Penimbangan, Pencampuran, dan penumpukan
|
20 menit
|
0,048 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
2.381
|
2.
|
Pembalikan I
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
3.
|
Pembalikan II
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
4.
|
Pembalikan III
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
5.
|
Pembalikan IV
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
6.
|
Pembalikan V
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
7.
|
Pendinginan
|
5 menit
|
0,012 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
595
|
8.
|
Penyaringan
|
15 menit
|
0,036 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
1.786
|
9.
|
Pengemasan
|
20 menit
|
0,048 HKO
|
Rp
50.000
|
Rp
2.381
|
Jumlah
|
85 menit
|
0,202 HKO
|
Rp
10.119
|

